Media sosial dihebohkan oleh curhatan penumpang bus TransJakarta Koridor 2 rute Monas-Pulogadung yang mengeluhkan gaya mengemudi sopir secara ugal-ugalan. Pengereman mendadak yang dilakukan pengemudi dilaporkan membuat sejumlah penumpang di dalam kabin terjatuh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menanggapi insiden viral tersebut, Pakar Psikologi Transportasi dan Keselamatan Jalan, Charli Sitinjak menilai bahwa kejadian ini tidak boleh disederhanakan sekadar sebagai kesalahan individu pengemudi semata. Berdasarkan pengamatan awal, terdapat indikasi visual pramudi menggunakan perangkat True Wireless Stereo di telinga saat mengoperasikan bus.
Menurut Charli, penggunaan perangkat audio tersebut berpotensi memicu gangguan auditori dan kognitif bagi pengemudi angkutan umum. "Penggunaan TWS berpotensi menimbulkan gangguan auditori dan kognitif, suara dari TWS dapat bersaing dengan peringatan dini di jalan seperti klakson atau sirene," ujar Charli.
Selain itu, sebagian sumber daya kognitif pengemudi dinilai teralokasi sehingga mengurangi kapasitas deteksi bahaya serta menurunkan kesadaran situasi di jalan raya. Kendati demikian, temuan ini masih harus diverifikasi secara mendalam melalui rekaman CCTV secara utuh agar tidak langsung menjadi kambing hitam tunggal.
Di sisi lain, analisis awak media menunjukkan bahwa investigasi menyeluruh juga harus melihat faktor eksternal seperti tekanan operasional, kelelahan kerja, serta sterilisasi jalur khusus busway yang sering diterobos kendaraan pribadi sehingga memicu pengereman darurat.