Pemerintah Hong Kong resmi memulai langkah masif untuk mengubah sepertiga wilayahnya yang mencakup desa tradisional, lahan basah, dan area pertanian menjadi sebuah kawasan raksasa bernama Northern Metropolis. Proyek ambisius ini dirancang untuk mendiversifikasi perekonomian lokal sekaligus mempererat integrasi wilayah dengan daratan China.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis awak media, proyek bernilai fantastis ini menuntut pengorbanan besar dari warga lokal yang harus rela kehilangan tempat tinggal bersejarah mereka. Salah satu warga terdampak, Chan Yuk-tong, harus merelakan rumah masa kecilnya di Kwu Tung yang segera dibuldoser demi kepentingan pembangunan infrastruktur modern.
Pemerintah setempat mengklaim bahwa kawasan baru ini diproyeksikan mampu menampung hingga 2,5 juta penduduk serta menyediakan sekitar 650.000 lapangan pekerjaan baru. Pusat teknologi bergaya Silicon Valley tersebut diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi Hong Kong yang terhubung langsung dengan wilayah Greater Bay Area.
Namun, rencana besar ini menuai kritik tajam dari berbagai kelompok lingkungan hidup dan sosial karena dinilai merusak ekosistem serta mengancam keberlangsungan komunitas lokal. Sejumlah pengamat mencatat bahwa sedikitnya 25 desa tradisional harus digusur, sementara biaya pembangunan diperkirakan membengkak hingga ratusan miliar dolar AS.
Di tengah berbagai tantangan finansial dan kekhawatiran publik, proyek ini terus berjalan setelah konsorsium perusahaan besar mulai menggarap lahan skala komersial di kawasan tersebut. Keberhasilan Northern Metropolis kini bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan arus lintas batas serta kepercayaan investor internasional.