Investor yang sempat menarik modal dari saham perusahaan teknologi besar akibat kekhawatiran lonjakan belanja modal kecerdasan buatan tampaknya melewatkan satu poin krusial. Berdasarkan laporan Bank of America yang disusun oleh analis Vivek Arya, tumpukan kontrak atau cloud computing backlog dari empat penyedia layanan cloud utama kini telah meroket hingga menembus angka fantastis 2,3 triliun dolar AS, mencatatkan lonjakan sebesar 16 persen dari kuartal sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data yang dihimpun, Microsoft mencatatkan sisa kewajiban performa komersial atau backlog yang tumbuh 8 persen secara kuartalan menjadi 678 miliar dolar AS pada kuartal kedua, dengan hanya 30 persen yang akan direalisasikan dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, Oracle melaporkan sisa kewajiban performa mencapai 638 miliar dolar AS, di mana hanya 12 persen yang jatuh tempo dalam satu tahun dan 34 persen dalam rentang waktu dua hingga tiga tahun.
Di sisi lain, unit bisnis AWS milik Amazon membukukan angka backlog sebesar 496 miliar dolar AS yang melonjak lebih dari 100 persen secara tahunan pada kuartal kedua. Google Cloud juga tidak mau ketinggalan dengan pertumbuhan backlog yang mencapai sekitar 514 miliar dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di angka sekitar 460 miliar dolar AS pada kuartal pertama.
Menurut analisis Vivek Arya, kapasitas komputasi saat ini masih menghadapi kendala pasokan, sehingga memicu selera para pemain hyperscale untuk terus menggelontorkan investasi kapasitas baru. "Kapasitas komputasi masih menghadapi kendala pasokan, dan kami melihat peningkatan minat hyperscale untuk terus berinvestasi pada kapasitas yang didukung oleh komitmen pelanggan serta penjualan AI yang melesat cepat", tulis Arya dalam catatannya.
Kekhawatiran pasar terkait seberapa besar dana yang dihabiskan raksasa teknologi untuk belanja modal AI sebenarnya sangat beralasan karena nilainya terus membengkak tanpa puncak yang terlihat. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, belanja modal hyperscaler diproyeksikan melonjak melewati 860 miliar dolar AS pada tahun 2026 dan bahkan berpotensi menuju kisaran 1,2 triliun dolar AS pada tahun 2027 seiring dengan pertumbuhan penjualan yang terus membaik.
Meskipun penurunan arus kas bebas sempat menjadi momok yang mencemaskan para pemegang saham, margin arus kas bebas negatif diperkirakan mencapai puncaknya di kisaran minus lima hingga enam persen pada periode 2027 hingga 2028. Setelah fase tersebut, profitabilitas yang sehat diprediksi akan kembali pulih seiring dengan semakin meluasnya adopsi dan penetrasi investasi kecerdasan buatan di berbagai sektor industri global.